Berdasarkan Pasal 26 ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan 1984, atas premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri, dipotong pajak 20% (dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto. Peraturan Pelaksanaan dari ketentuan ini adalah Keputusan Menteri Keuangan Nomor 624/KMK.04/1994 Tentang Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 Atas Penghasilan Berupa Premi Asuransi Dan Premi Reasuransi Yang Dibayar Kepada Perusahaan Asuransi Di Luar Negeri.

Perkiraan Penghasilan Neto

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan ini, besarnya perkiraan penghasilan neto adalah sebagai berikut :

  1. 50% (lima puluh persen) dari jumlah premi yang dibayar atas premi dibayar tertanggung kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui pialang
  2. 10% (sepuluh persen) dari jumlah premi yang dibayar atas premi yang dibayar oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui pialang
  3. 5% (lima persen) dari jumlah premi yang dibayar atas premi yang dibayar oleh perusahaan reasuransi yang berkedudukan di Indonesia kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui pialang

Tarif Efektif

Dengan demikian, bila kita mengalikan tarif PPh Pasal 26 sebesar 20% terhadap perkiraan penghasilan neto, maka tarif efektifnya adalah sebagai berikut :

  1. 10% (sepuluh persen) dari jumlah premi yang dibayar atas premi dibayar tertanggung kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui pialang
  2. 2% (dua persen) dari jumlah premi yang dibayar atas premi yang dibayar oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui pialang
  3. 1% (satu persen) dari jumlah premi yang dibayar atas premi yang dibayar oleh perusahaan reasuransi yang berkedudukan di Indonesia kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui pialang

Pemotong Pajak

Pemotong PPh Pasal 26 atas premi asuransi ini adalah :

  1. Tertanggung, atas premi yang dibayar kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui pialang
  2. Perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia, atas premi yang dibayar kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui pialang
  3. Perusahaan reasuransi yang berkedudukan di Indonesia atas premi yang dibayar kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui pialang

Tatacara Pemotongan dan Penyetoran

Pajak Penghasilan Pasal 26 atas premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri terutang pada akhir bulan dilakukannya pembayaran premi atau pada akhir bulan terutangnya premi asuransi tersebut. Penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 26 dilakukan oleh pemotong selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari setelah saat terutangnya pajak dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP).

Pemotong pajak wajib membuat Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26, dalam rangkap 3 (tiga) :

  1. Lembar 1, untuk pihak yang dipotong penghasilannya;
  2. Lembar 2, untuk dilampirkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Penghasilan 26 yang disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat pemotong pajak terdaftar;
  3. Lembar 3, untuk arsip pemotong pajak.