<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Pajak Penghasilan Disetahunkan</title>
	<atom:link href="http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html</link>
	<description>Memahami Pajak Melalui Blog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 02:12:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: efti</title>
		<link>http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html/comment-page-1#comment-3046</link>
		<dc:creator>efti</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 05:29:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dudiwahyudi.com/?p=241#comment-3046</guid>
		<description>p.dudi

bagaimana penghitungan pph pribadi untuk masa kerja belum satu tahun.
thanx</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>p.dudi</p>
<p>bagaimana penghitungan pph pribadi untuk masa kerja belum satu tahun.<br />
thanx</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: FRS</title>
		<link>http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html/comment-page-1#comment-2866</link>
		<dc:creator>FRS</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 11:36:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dudiwahyudi.com/?p=241#comment-2866</guid>
		<description>Teori Ibu Susi, mungkinkah kasus yang sama yang terjadi pada saya dilapangan ? saya sudah mention kasus saya diatas bu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Teori Ibu Susi, mungkinkah kasus yang sama yang terjadi pada saya dilapangan ? saya sudah mention kasus saya diatas bu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: FRS</title>
		<link>http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html/comment-page-1#comment-2865</link>
		<dc:creator>FRS</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 11:32:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dudiwahyudi.com/?p=241#comment-2865</guid>
		<description>Pak Dudi, mohon informasinya dan bantuannya untuk kasus saya.
Saya pada tahun 2009 bekerja pada perusahaan A selama Periode January - Oktober 2009, dan pada perusahaan B November - December 2009.
Pajak dibayarkan oleh perusahaan saya setiap bulannya.

Ketika saya mengisi form S, terjadi kekurangan bayar yang lumayan besar. Setelah saya periksa, ternyata karena PTKP masing-masing perusahaan tersebut disetahunkan. Sehingga kerugian saya paling besar pada perusahaan B dimana PTKP saya menjadi setahun dimana saya hanya 2 bulan bekerja.

So saya jadi merasa dirugikan, karena tiap bulan gaji saya sudah dipotong pajak. dan ternyata saya harus membayar kekurangan pajak. Padahal tiap bln sudah disetorkan perusahaan.
Dan saya sekarang sudah tidak bekerja di kedua perusahaan tersebut.

Mohon informasinya Pak, terima kasih sebelumnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Dudi, mohon informasinya dan bantuannya untuk kasus saya.<br />
Saya pada tahun 2009 bekerja pada perusahaan A selama Periode January &#8211; Oktober 2009, dan pada perusahaan B November &#8211; December 2009.<br />
Pajak dibayarkan oleh perusahaan saya setiap bulannya.</p>
<p>Ketika saya mengisi form S, terjadi kekurangan bayar yang lumayan besar. Setelah saya periksa, ternyata karena PTKP masing-masing perusahaan tersebut disetahunkan. Sehingga kerugian saya paling besar pada perusahaan B dimana PTKP saya menjadi setahun dimana saya hanya 2 bulan bekerja.</p>
<p>So saya jadi merasa dirugikan, karena tiap bulan gaji saya sudah dipotong pajak. dan ternyata saya harus membayar kekurangan pajak. Padahal tiap bln sudah disetorkan perusahaan.<br />
Dan saya sekarang sudah tidak bekerja di kedua perusahaan tersebut.</p>
<p>Mohon informasinya Pak, terima kasih sebelumnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Erick</title>
		<link>http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html/comment-page-1#comment-1755</link>
		<dc:creator>Erick</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 10:49:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dudiwahyudi.com/?p=241#comment-1755</guid>
		<description>Pak Dudi mengenai Kewajiban Pajak Subjektif yg menjadi dasar PPh yg disetahunkan, apakah maksudnya hanya untuk Ekspatriat ?? mohon penjelasannya.. Terimakasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Dudi mengenai Kewajiban Pajak Subjektif yg menjadi dasar PPh yg disetahunkan, apakah maksudnya hanya untuk Ekspatriat ?? mohon penjelasannya.. Terimakasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Miko Palar</title>
		<link>http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html/comment-page-1#comment-1313</link>
		<dc:creator>Miko Palar</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 06:47:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dudiwahyudi.com/?p=241#comment-1313</guid>
		<description>mau tanya, jika i setahunkan ini apakah mempengaruhi SPT tahun tsb ? apakah akan terjadi lebih bayar ? bagaimana agar hinghindari lebih bayar tsb ? dapatkah PTKPnya yang di bulankan saja ?. terimakasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mau tanya, jika i setahunkan ini apakah mempengaruhi SPT tahun tsb ? apakah akan terjadi lebih bayar ? bagaimana agar hinghindari lebih bayar tsb ? dapatkah PTKPnya yang di bulankan saja ?. terimakasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: e'wha</title>
		<link>http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html/comment-page-1#comment-789</link>
		<dc:creator>e'wha</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 10:08:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dudiwahyudi.com/?p=241#comment-789</guid>
		<description>Mas Dudi mohon sedikit penjelasan mengenai kewajiban perpajakan pph 21 untuk Perusahaan yang didirikan/beroperasi mulai bulan september. apakah untuk perhitungannya juga disetahunkan ?? untuk laporan SPT tahunannya bagaimana ?..
terimakasih,.

&lt;em&gt;Perhitungan PPh Pasal 21 tidak berhubungan dengan kondisi perusahaannya tapi berhubungan dengan kondisi pegawai yang dipotong pph pasal 21nya. Jadi disetahunkan atau tidak tergantung kondisi pegawainya.
Untuk SPT Tahunan PPh Badan, perhitungannya biasa saja. Tak ada istilah disetahunkan untuk perhitungan pph perusahaan (badan).&lt;/em&gt;
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Dudi mohon sedikit penjelasan mengenai kewajiban perpajakan pph 21 untuk Perusahaan yang didirikan/beroperasi mulai bulan september. apakah untuk perhitungannya juga disetahunkan ?? untuk laporan SPT tahunannya bagaimana ?..<br />
terimakasih,.</p>
<p><em>Perhitungan PPh Pasal 21 tidak berhubungan dengan kondisi perusahaannya tapi berhubungan dengan kondisi pegawai yang dipotong pph pasal 21nya. Jadi disetahunkan atau tidak tergantung kondisi pegawainya.<br />
Untuk SPT Tahunan PPh Badan, perhitungannya biasa saja. Tak ada istilah disetahunkan untuk perhitungan pph perusahaan (badan).</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aris</title>
		<link>http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html/comment-page-1#comment-747</link>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 11:15:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dudiwahyudi.com/?p=241#comment-747</guid>
		<description>mas ini saya ada kasus..
laba bruto saya bervariatif mulai dari 3% sampai 17% peritem yang saya jual. itu berarti jauh dari  ketentuan laba bruto yang di tetapka oleh dirjen pajak(30%) dan saya sangat rugi kalau beban pajak saya melebihi apa yang say dapatkan.

bagaimana ini mas?butuh pencerahan

&lt;em&gt;Kalau memang penghasilan neto (bukan laba bruto) sebenarnya jauh di bawah tarif norma, gunakan saja pembukuan, jangan gunakan tarif norma. Risikonya Anda perlu menganggarkan biaya untuk melakukan pembukuan. Nah, silahkan bandingkan, mana yang terbaik, menggunakan tarif norma atau pembukuan.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mas ini saya ada kasus..<br />
laba bruto saya bervariatif mulai dari 3% sampai 17% peritem yang saya jual. itu berarti jauh dari  ketentuan laba bruto yang di tetapka oleh dirjen pajak(30%) dan saya sangat rugi kalau beban pajak saya melebihi apa yang say dapatkan.</p>
<p>bagaimana ini mas?butuh pencerahan</p>
<p><em>Kalau memang penghasilan neto (bukan laba bruto) sebenarnya jauh di bawah tarif norma, gunakan saja pembukuan, jangan gunakan tarif norma. Risikonya Anda perlu menganggarkan biaya untuk melakukan pembukuan. Nah, silahkan bandingkan, mana yang terbaik, menggunakan tarif norma atau pembukuan.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dudi</title>
		<link>http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html/comment-page-1#comment-630</link>
		<dc:creator>dudi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 01:13:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dudiwahyudi.com/?p=241#comment-630</guid>
		<description>@ifa
Kalau biaya jabatan memang harus dikurangkan (kalau enggak rugi dong :) ). Kalau iuran pensiun atau JHT/IHT tidak diperhitungkan kalau memang tidak ada pembayarannya.
Terima kasih mbak ifa sudah nambah ilmu di blog saya. Doakan ya biar saya tetap punya komitmen mengurus blog ini. Salam.

@Susi
Terima kasih pertanyaannya. Maaf ya baru tahu sekarang. Memang karena keterbatasan waktu dan akses internet saya tidak bisa memantau semua komentar yang masuk. Jadi, terima kasih sudah diingatkan. Jangan bosan-bosan ya main di blog saya :) .
Mengenai norma, menurut saya sudah jelas ketentuannya. Jadi, jika Wajib Pajak memilih norma, ya baik WP maupun kantor pajak harus menerima konsekuensinya. Jadi, misalnya kalau merugikan WP, ya WP harus terima. Kalau menguntungkan WP, alhamdulillah.
Jika merugikan pajak, kantor pajakpun tidak bisa mengenakan pajak menggunakan cara pembukuan karena hal ini merupakan salah satu fasilitas bagi WP yang dijamin oleh peraturan.
Atau mbak Susi punya kasus mengenai hal ini? Mungkin bisa dishare untuk didiskusikan.
Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ifa<br />
Kalau biaya jabatan memang harus dikurangkan (kalau enggak rugi dong <img src='http://dudiwahyudi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ). Kalau iuran pensiun atau JHT/IHT tidak diperhitungkan kalau memang tidak ada pembayarannya.<br />
Terima kasih mbak ifa sudah nambah ilmu di blog saya. Doakan ya biar saya tetap punya komitmen mengurus blog ini. Salam.</p>
<p>@Susi<br />
Terima kasih pertanyaannya. Maaf ya baru tahu sekarang. Memang karena keterbatasan waktu dan akses internet saya tidak bisa memantau semua komentar yang masuk. Jadi, terima kasih sudah diingatkan. Jangan bosan-bosan ya main di blog saya <img src='http://dudiwahyudi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .<br />
Mengenai norma, menurut saya sudah jelas ketentuannya. Jadi, jika Wajib Pajak memilih norma, ya baik WP maupun kantor pajak harus menerima konsekuensinya. Jadi, misalnya kalau merugikan WP, ya WP harus terima. Kalau menguntungkan WP, alhamdulillah.<br />
Jika merugikan pajak, kantor pajakpun tidak bisa mengenakan pajak menggunakan cara pembukuan karena hal ini merupakan salah satu fasilitas bagi WP yang dijamin oleh peraturan.<br />
Atau mbak Susi punya kasus mengenai hal ini? Mungkin bisa dishare untuk didiskusikan.<br />
Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: susi</title>
		<link>http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html/comment-page-1#comment-602</link>
		<dc:creator>susi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2008 20:17:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dudiwahyudi.com/?p=241#comment-602</guid>
		<description>Pak, kalau pakai norma maka akan terjadi 2 kemungkinan: dimana kalau untung netto sebenarnya dr wp lebih tinggi dari % normanya, berarti kan wp untung, dirjen rugi, sementara sebaliknya kalau netto sebenarnya dibawah % normanya kan dirjen pajaknya yg untung, wp malah rugi....

saya sadar bahwa norma ini sebenarnya untuk menyederhanakan (bagi yang tidak mampu pembukuan), dan mengesampingkan rasa keadilan sebenarnya (dan % norma tsb sepertinya memang sudah di&#039;naik&#039;an diatas rata2 maksimal per kapita nya juga kok, supaya dirjen selalu untung!).

Dgn demikian kalau wp dirugikan dari perhitungan norma, tentunya dirjen pajak tentunya tidak akan mempermasalahkan.

Nah masalahnya: Tapi kalo terjadi sebaliknya bagaimana? apakah dirjen akan bersikap fair&#039; ? karena kalau kebetulan wp yg lg untung, duitnya tentunya akan menumpuk di harta bukan?

Nah apakah dalam hal ini penambahan untung netto dari kejadian tsb dianggap &#039;sudah/belum&#039; dikenakan pajak? 

(mengingat di salah satu pasal setiap penambahan netto yg belum dipajakin bisa dipajakin)

Menurut saya seharusnya &#039;sudah dikenakan&#039;, kan norma hitungnya lgsg dari bruto keseluruhan, penambahan tsb &#039;sudah dihitung&#039; dalam peredaran bruto dari norma tsb loh..berarti &#039;sudah dikenakan pajak&#039; kan? bagaimana pendapat bapak?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak, kalau pakai norma maka akan terjadi 2 kemungkinan: dimana kalau untung netto sebenarnya dr wp lebih tinggi dari % normanya, berarti kan wp untung, dirjen rugi, sementara sebaliknya kalau netto sebenarnya dibawah % normanya kan dirjen pajaknya yg untung, wp malah rugi&#8230;.</p>
<p>saya sadar bahwa norma ini sebenarnya untuk menyederhanakan (bagi yang tidak mampu pembukuan), dan mengesampingkan rasa keadilan sebenarnya (dan % norma tsb sepertinya memang sudah di&#8217;naik&#8217;an diatas rata2 maksimal per kapita nya juga kok, supaya dirjen selalu untung!).</p>
<p>Dgn demikian kalau wp dirugikan dari perhitungan norma, tentunya dirjen pajak tentunya tidak akan mempermasalahkan.</p>
<p>Nah masalahnya: Tapi kalo terjadi sebaliknya bagaimana? apakah dirjen akan bersikap fair&#8217; ? karena kalau kebetulan wp yg lg untung, duitnya tentunya akan menumpuk di harta bukan?</p>
<p>Nah apakah dalam hal ini penambahan untung netto dari kejadian tsb dianggap &#8217;sudah/belum&#8217; dikenakan pajak? </p>
<p>(mengingat di salah satu pasal setiap penambahan netto yg belum dipajakin bisa dipajakin)</p>
<p>Menurut saya seharusnya &#8217;sudah dikenakan&#8217;, kan norma hitungnya lgsg dari bruto keseluruhan, penambahan tsb &#8217;sudah dihitung&#8217; dalam peredaran bruto dari norma tsb loh..berarti &#8217;sudah dikenakan pajak&#8217; kan? bagaimana pendapat bapak?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ifa</title>
		<link>http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/pajak-penghasilan-disetahunkan.html/comment-page-1#comment-597</link>
		<dc:creator>Ifa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2008 03:14:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dudiwahyudi.com/?p=241#comment-597</guid>
		<description>Mas dudi, kalo biaya jabatan emang harus / wajib dikurangkan untuk pengurang pajak? dan kalo...misalnya kita tidak dibayarkan JHT oleh perusahaan (karyawan kontrak), so gak usah jadi pengurang pajak yach?
Makasih yach untuk jawabannya, enak banget ada blog nya mas dudi...bisa bantu orang yang bleng sama pajak (tambah tau dan tambah ilmu), makasih yach.

Ifa</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas dudi, kalo biaya jabatan emang harus / wajib dikurangkan untuk pengurang pajak? dan kalo&#8230;misalnya kita tidak dibayarkan JHT oleh perusahaan (karyawan kontrak), so gak usah jadi pengurang pajak yach?<br />
Makasih yach untuk jawabannya, enak banget ada blog nya mas dudi&#8230;bisa bantu orang yang bleng sama pajak (tambah tau dan tambah ilmu), makasih yach.</p>
<p>Ifa</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
