Istilah “disetahunkan” dalam penghitungan Pajak Penghasilan ditemukan dalam Pasal 16 ayat (4) Undang-undang Pajak Penghasilan (UU Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhr dengan UU Nomor 36 Tahun 2008). Baiklah, saya kutipkan bunyi Pasal 16 ayat (4) tersebut.

Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang terutang pajak dalam suatu bagian tahun pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2A ayat (6) dihitung berdasarkan penghasilan netto yang diterima atau diperoleh dalam bagian tahun pajak yang disetahunkan.

Dari ketentuan di atas bisa kita ambil dua kesimpulan. Pertama, penghitungan Pajak Penghasilan disetahunkan hanya diterapkan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi. Kedua, Penerapannya dilakukan karena Wajib Pajak Orang Pribadi tersebut terutang pajak dalam “bagian tahun pajak”.

Kewajiban Pajak Subjektif

Istilah bagian tahun pajak mengandung pengertian bahwa seseorang terutang pajak kurang dari satu tahun pajak. Seperti kita ketahui, pada umumnya Pajak Penghasilan terutang dalam satu tahun pajak. Namun demikian, dalam hal-hal tertentu, seseorang terutang pajak dalam bagian tahun pajak atau kurang dari satu tahun pajak. Bagaimana hal ini terjadi? Jawagannya adalah : Kewajiban Pajak Subjektif.

Pajak Penghasilan adalah pajak subjektif. Artinya kondisi subjek pajak merupakan hal pertama yang harus dipertimbangkan. Baru kemudian dilihat objek pajaknya. Nah, sebagaimana diatur dalam Pasal 2A UU PPh, kewajiban pajak subjektif dimulai pada saat seseorang dilahirkan atau saat pertama seseorang tinggal di Indonesia. Kewajiban pajak subjektif berakhir ketika seseorang meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.

Contohnya bagaimana sih? Coba kita lihat, pada tahun 2008 Tuan David Beckham mulai bekerja sebagai pelatih sepakbola di Indonesia dengan kontrak dua tahun dimulai pada tanggal 1 September 2008 dan akan berakhir pada atnggal 31 Agustus 2010. Dengan demikian, untuk penghitungan Pajak Penghasilan, kewajiban pajak Tuan David Beckham. pada tahun 2008 hanya empat bulan (bagian tahun pajak), pada tahun 2009 satu tahun penuh, dan pada tahun 2010 hanya 8 bulan (bagian tahun pajak). Dengan demikian, pada tahun 2008 dan 2009 penghitungan pajak Tuan David Beckham adalah disetahunkan.

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Nah, pertanyaan berikutnya adalah : mengapa perlu ada penghitungan Pajak Penghasilan disetahunkan? Jawabannya adalah PTKP! Hak atas PTKP bagi Wajib Pajak Orang Pribadi sebanding dengan lamanya orang tersebut memiliki kewajiban pajak subjelktif. Coba lihat contoh di atas sekali lagi. Pada tahun 2008, Tuan David Beckham memiliki kewajiban pajak subjektif selama empat bulan saja (September s.d. Desember) sehingga hak atas PTKP nya adalah selama empat bulan saja (4/12 dari PTKP setahun). Bedakan dengan kasus seperti ini : Tuan Suwito sudah tidak bekerja lagi sejak tahun 2006. Pada tahun 2008 ia diterima bekerja pada PT ABC dan ia mulai bekerja pada tanggal 1 September 2008. Dalam kasus Tuan Suwito ini, ia berhak atas PTKP setahun penuh karena kewajiban pajak subjektifnya sudah mulai ada dari awal tahun walaupun ia baru berpenghasilan 1 September 2008.

Link tulisan terkait dengan tulisan ini :